Demi Masa
Blog Detail 26 Apr 2018 09:52

DENGAN perlahan-lahan, Kalender lama yang tergantung di dinding selama satu tahun berakhir. Digantikan kalender baru, dengan gambar baru. Tapi, masih ada gambarnya yang dapat digunakan perhiasan dinding. Demikian huruf- hurufnya untuk kepentingan lain. Jadi, tidak semua yang lama dibuang.Kecuali yang merusak seperti KKN dan hal-hal negative yang merusak kehidupan dunia.

Segi agama khususnya Islam, pergantian tahun hikmahnya dihubungkan dengan istilah waktu. Berasal dari Bahasa Arab “ Waqt “. Yaitu batas akhir masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja. Kata lain yang digunakan Al-Quran ‘Ashr, juga hubungannya dengan kerja keras di dunia. Kata ‘Ashr lebih condong berarti memeras atau menekan sekuat tenaga sehingga terlihat bagian dalam sesuatu, nampak jelas.Jadi pergantian waktu itu menghendaki amal yang lebih positif.

QS. AL- ASHR
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. AL-ASHR : 1-3)

Telah kita lalui bersama pergantian tahun dari 2013 ke 2014. Kita lihat kembali kaleidoskop, kenangan, cerita, tragedy selama setahun di tahun 2013 untuk kita jadikan ibrah/pelajaran agar kita bisa mengambil hikmah dibalik semua kisah. Kemudian kita mempersiapkan mimpi kita, destinasi, harapan yang ingin kita capai di tahun 2014 dengan persiapan lebih awal, semangat baru untuk menempuh hidup meraih cita. Gembira, sedih, bangga, kecewa, haru, isak tangis, gelegar tawa selalu menghiasi setiap kehidupan kita disadari maupun tidak. Ketika kita semua tahu bahwa kita diawasi, kita dilihat dan diperhatikan oleh ilahi dalam panggung dunia, tentulah khidupan kita sedikit tertata, tersusun sesuai perintah Qur’an dan Hadits. Memang menyedihkan ketika kita melihat berita di kanan dan kiri mata kita, pada pergantian tahun baru sulutan kembang api membumbung tinggi diangkasa, suara riuh dan lantang para penikmat, konser dan segala macam goyang dipersembahkan, kamar sewa penuh sesak bak surga entah itu suami istri atau tidak. Uang dikobar menjadi debu tak bersisa hanya untuk satu malam, hanya untuk hitungan angka mundur dari sepuluh sampai jam 00.00 tiba. Magis rasanya ketika semua itu terjadi, penonton terpukau dan terpaku dengan keindahan malam. Tiupan teompet degala waralabanya menghiasi jalanan kota. Mana esensi yang sebenarnya dalam menyikapi pergantian tahun. Apakah seperti itu???

Qur’an surat Al- Ashr telah menyebutkan sangat tepat. Bahwa inilah waktu, waktu yang diagungkan manusia, waktu yang selalu menempel di badan manusia, kadang menyenangkan atau bahkan membunuh. Dalam sebuah kata pepatah bahasa Arab “Waktu itu bagaikan pedang, jika kau tidak menebasnya engkau akan tertebas olehnya”. Sarat makna, memang kita harus bisa menaklukkan waktu. Karena manusia memang benar-benar dalam kerugian, sangat kerugian jika kita menggunakan waktu untuk sia-sia belaka. Tak ada kebaikan yang didapat, menambah maksiat adanya. Bukan teman, kawan, sahabat yang dicari, malah lawan yang mendekat.

Dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb mengatakan, “Pada surah yang hanya memiliki tiga ayat ini terkandung suatu manhaj yang menyeluruh tentang kehidupan umat manusia sebagaimana yang dikehendaki Islam. Ia meletakkan suatu konstitusi Islami dalam kehidupan seorang muslim, tentang hakikat dan tujuan hidupnya yang meliputi kewajiban dan tugas-tugasnya. Suatu bukti bahwa surah ini merupakan mukjizat Allah yang tiada seorang pun dapat melakukannya.” Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, “Seandainya saja al-Qur’an tidak diturunkan, niscaya satu surah ini cukup menjadi petunjuk manusia. Karena di dalamnya terkandung seluruh pesan-pesan al-Qur’an.”

Allah swt berfirman,

“Demi masa.” (QS. Al- Ashr : 1)
Para ulama menafsirkan kata “al-’Ashr” di sini dimaksudkan beberapa hal.

-Pertama : Waktu (Masa). Menurut Ibn Abbas, kata ‘Ashr di sini sangatlah tepat jika ditafsirkan sebagai waktu. Sebab, Allah swt memang sangat memberikan perhatian kepada perputaran orbit waktu. Banyak orang rugi akibat tidak memahami hakikat waktu dengan menghabiskannya secara sia-sia.
-Kedua : Kata ‘Ashr di sini berarti shalat Ashar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim, Rasulullah saw dikabarkan telah bersabda, “Jagalah shalat-shalatmu, dan shalat Ashar”
-Ketiga : zaman Nabi saw. Kita tahu, periode kehidupan Nabi saw adalah periode terbaik sejarah peradaban manusia.
-Keempat : sebagian ulama menafsirkannya sebagai Tuhan pemilik waktu. Ketika Allah swt berfirman, “demi masa” hendaklah dipahami sebagai “Demi Tuhan, pemilik peredaran waktu.”

Allah swt kemudian berfirman,
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian” (QS. Al- Ashr : 2)

Ayat ini merupakan jawaban dari sumpah Allah tentang waktu. Secara bahasa, Allah swt menggunakan dua penegasan sekaligus dalam ayat ini. Yaitu, kata “inna” dan huruf “lam” pada kata “fi”. Hal ini menunjukkan bahwa manusia, sebagai objek dialog wahyu Allah kepada rasul-Nya, acap lengah dengan waktu yang dimilikinya. Sehingga Allah tegaskan bahwa orang seperti itu akan benar-benar hidup dalam kerugian. Menurut Ibn Abbas, ketika ayat ini diturunkan oleh Allah swt, orang-orang yang tengah disoroti adalah sekelompok kaum Musyrikin Mekah. Mereka itu adalah al-Walid bin al-Mughirah, Ash bin Wail, Al-Aswad bin Abdul Muthalib, dan Aswad bin Abdul Yagust. Tokoh-tokoh musyrikin Mekah ini selalu asyik berleha-leha tanpa menyadari perubahan kerut muka di wajahnya, uban menguasai kepalanya dan kesehatan badan yang mulai menurun akibat dimakan usia. Orang seperti ini pasti benar-benar berada dalam kerugian. Sama halnya dengan saudara-saudara kita yang asyik terlena dalam nina-bobo syaitan. Lihatlah, bagaimana para anak muda menghabiskan waktunya di depan teve, bermain game, play station, browsing internet dan lain-lain. Mereka telah membuang waktu dan tanpa sadar telah “disembelih” olehnya. Pepatah Arab mengatakan, waktu laksana pedang, bila engkau tak menggunakannya, ia akan memotong usiamu. Kerugian ini tentu saja bagi mereka yang berleha-leha. Sebab, Allah swt kemudian memberikan pengecualian kepada sekelompok lainnya. ALLAH berfirman,

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al- Ashr : 3)

Pengecualian itu diberikan kepada kelompok orang yang beriman. Allah swt memberikan suatu pra-syarat tentang kelompok ini. Yaitu mereka yang berbuat baik, saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dengan kata lain, seorang yang mengaku beriman, tak cukup dengan hanya deklarasi pada dirinya sendiri namun dibutuhkan suatu tindakan nyata dengan amal saleh. Metaforsis ini mungkin bisa lebih menjelaskan bagaimana surah ini dijelaskan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Ubay bin Ka’ab berkata, Aku membaca (surah Al-‘Ashr) di hadapan Rasulullah saw. Kemudian aku bertanya, apa maksudnya wahai Nabi Allah? Beliau saw menjawab, “Al-’Ashr adalah janji dari Allah swt. Tuhanmu tengah berjanji dengan menyebut penggalan akhir waktu di siang hari. “Innal Insana Lafi Khusrin” : Abu Jahal, “illa ladzina amanu” : Abu Bakar, “wa-amilus shalihat” : Umar bin al-Khattab, “Watawasau bil haq” : Utsman bin Affan, dan “Watawasau bis-shabr” : Ali bin Abi Thalib. (Hadits Mawquf).

Ar-Razi menulis pula dalam tafsirnya: “Dalam Surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugilah adanya, kecuali barangsiapa yang berpegang dengan keempatnya ini. Yaitu: Iman, Amal Shalih, Pesan-memesan kepada Kebenaran dan Pesan-memesan kepada Kesabaran. Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Miftahu Daris-Sa’adah” menerengkan: “Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, hasillah tujuannya menuju kesempurnaan hidup. Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkan kepada orang yang belum pandai memakaikannya. Keempat: Sabar di dalam menyesuaikan diri dengan Kebenaran dan mengamalkan dan mengajarkannya. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini. Imam Asy-Syafi’i berkata: “Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya."

Share to